Oleh:
Kiyai
Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si., M.Si. Kepala Laboratorium
Fisika Nuklir, Universitas Sumatera Utara
Pendahuluan:
Mengapa Kaji Diri Begitu Penting ?
Dalam
pusaran kehidupan modern yang serba cepat, manusia seringkali merasa terasing
dari dirinya sendiri. Kita sibuk mengejar pencapaian eksternal, namun lupa
untuk menengok ke dalam. Padahal, kebijaksanaan dari berbagai peradaban dan
tradisi spiritual selalu menunjuk pada satu kebenaran fundamental: kunci untuk
memahami alam semesta dan Alloooh adalah dengan memahami diri sendiri. Adagium
"Barangsiapa mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya (Alloooh)
" (Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa Rabbahu) adalah inti dari perjalanan
spiritual ini.
Di
Nusantara, dua tokoh sufi besar telah mewariskan pemikiran mendalam tentang
"kaji diri" yang relevan hingga kini: Sutan Bagindo Mukhtar dengan
konsep "Diriku yang Kukenal" dan Syeikh Muhammad Nafis
al-Banjari dengan karyanya Ad-Durr an-Nafis (Permata yang
Indah).
Makalah
ilmiah populer ini akan membandingkan kedua pendekatan ini, menyoroti perbedaan
dan sinergi di antara keduanya, serta merumuskan dampak praktisnya bagi
masyarakat di era kontemporer.
1. Kaji Diri ala Sutan Bagindo Mukhtar:
"Diriku yang Kukenal" – Sebuah Perjalanan Introspeksi
Sutan
Bagindo Mukhtar mengajak kita pada sebuah perjalanan introspektif yang radikal
melalui karyanya "Diriku yang Kukenal" (Mukhtar, t.t.). Konsep ini
bukanlah sekadar pengenalan terhadap identitas lahiriah—seperti nama,
pekerjaan, atau status sosial—yang seringkali menjadi topeng atau ilusi. Sebaliknya,
"Diriku yang Kukenal" adalah sebuah seruan untuk menyingkap
lapisan-lapisan diri yang paling dalam, membedakan antara "diri" yang
bersifat sementara dan superfisial (ego atau nafs ammarah) dengan
"diri" yang bersifat abadi dan esensial (ruh atau nafs
muthmainnah).
Bagi
Bagindo Mukhtar, diri sejati adalah "permata" yang tersembunyi, yang
pada dasarnya suci dan terhubung dengan sumber Ilaaahi. Namun, permata ini
seringkali tertutupi oleh "debu" dan "noda" yang berasal
dari pengalaman duniawi, hawa nafsu, prasangka, kelalaian (ghaflah), serta
berbagai kondisi psikologis dan sosial. Oleh karena itu, "Diriku yang
Kukenal" adalah proses pemurnian, sebuah upaya untuk mengupas
lapisan-lapisan yang menghalangi cahaya permata batin untuk terpancar.
Metodologi kaji diri Bagindo Mukhtar sangat menekankan pada proses
dan pengalaman. Ini melibatkan:
Observasi
Diri yang Jujur (Muhasabah): Mengamati pikiran, emosi, motivasi, ucapan,
dan tindakan sehari-hari tanpa pretensi.
Pembedaan Diri Sejati dan Diri Palsu:
Mempelajari
untuk melepaskan identifikasi diri dengan ego yang terbatas dan fana, dan mulai
mengidentifikasi diri dengan ruh yang lebih luas dan abadi.
Penyucian
Jiwa (Tazkiyatun Nafs): Melalui praktik spiritual dan menjauhi larangan,
membersihkan diri dari sifat-sifat tercela.
Refleksi
atas Perjanjian Primordial (Mitsaq): Mengingat kembali janji ruh kepada Alloooh
di alam azali (QS. Al-A'raf: 172), bahwa pengenalan kepada Alloooh adalah
pengingatan kembali.
Intinya,
pendekatan Bagindo Mukhtar adalah metodologis dan transformatif, berfokus
pada bagaimana seseorang melakukan perjalanan untuk menemukan dirinya
yang sejati.
2. Kaji Diri ala Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari: "Ad-Durr
an-Nafis" – Struktur dan Lapisan Diri
Syeikh
Muhammad Nafis al-Banjari, melalui karyanya Ad-Durr an-Nafis fi Bayan
Wahdat al-Af'al wa al-Asma' wa as-Sifat wa adz-Dzat (Permata yang Indah
dalam Menjelaskan Kesatuan Perbuatan, Nama, Sifat, dan Dzat) (al-Banjari,
1780/1986), menawarkan pendekatan yang lebih struktural dan ontologis terhadap
kaji diri. Beliau tidak hanya membahas bagaimana mengenal diri,
tetapi juga apa itu diri, dengan menguraikan lapisan-lapisan diri
manusia dan hubungannya dengan Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud).
Syeikh
Nafis menjelaskan bahwa manusia adalah mikrokosmos yang mencerminkan
makrokosmos, dan bahwa diri terdiri dari beberapa tingkatan atau
"latifah" (kelembutan) spiritual, seperti Nafs, Qalb, Ruh, Sirr, Khafi,
dan Akhfa.
Setiap
tingkatan ini memiliki fungsi dan hubungannya sendiri dengan manifestasi Ilaaahi:
Nafs
(Jiwa): Tingkatan terendah, cenderung pada keinginan duniawi.
Qalb
(Hati Spiritual): Pusat kesadaran, intuisi, dan bashirah (mata
batin).
Ruh
(Roh): Esensi kehidupan, tempat mitsaq primordial bersemayam.
Sirr
(Rahasia): Tingkatan yang lebih halus, tempat rahasia-rahasia Ilaaahi
terungkap.
Khafi
(Tersembunyi): Tingkatan yang lebih dalam dari Sirr.
Akhfa
(Paling Tersembunyi): Tingkatan terdalam, tempat penyaksian Dzatullah.
Dalam
pandangan Syeikh Nafis, kaji diri adalah memahami struktur diri ini secara
hierarkis, menyadari bahwa tubuh (Darun Nafis) adalah "rumah" bagi
tingkatan-tingkatan spiritual tersebut.
Tujuan
kaji diri adalah untuk membersihkan dan mengaktifkan setiap tingkatan, sehingga
setiap aspek diri dapat berfungsi sesuai fitrahnya, yaitu mengenal dan
menyaksikan Wahdatul Wujud.
3. Perbandingan dan Sinergi: Dua Jalan Menuju Makrifat yang Saling
Melengkapi
|
Aspek
Perbandingan |
Sutan Bagindo Mukhtar
("Diriku yang Kukenal") |
Syeikh Muhammad Nafis
al-Banjari (Ad-Durr an-Nafis) |
|
Fokus
Utama |
Proses introspeksi,
pemurnian, transformasi diri. |
Struktur dan
lapisan-lapisan diri, ontologi Wahdatul Wujud. |
|
Orientasi |
Metodologis,
"bagaimana" mengenal diri. |
Struktural,
"apa" itu diri dan lapisannya. |
|
Tujuan |
Mengupas ilusi ego,
mengingat mitsaq. |
Memahami hierarki diri
dan manifestasi Ilaaahi di dalamnya. |
|
Metafora |
"Permata yang
Kukenal" (diri yang perlu dipoles). |
"Permata yang
Indah" (diri sebagai struktur berlapis). |
Meskipun
memiliki fokus yang berbeda, kedua pendekatan ini bersinergi dan
saling melengkapi:
Sinergi
Proses dan Struktur: Pendekatan Bagindo Mukhtar yang berfokus pada proses
pemurnian (tazkiyatun nafs) sangat relevan untuk membersihkan setiap lapisan
diri yang dijelaskan oleh Syeikh Nafis. Tanpa proses pemurnian,
struktur-struktur spiritual itu mungkin tetap "tertidur" atau tertutupi.
Sebaliknya, pemahaman struktural dari Syeikh Nafis memberikan peta jalan yang
jelas tentang apa yang sedang "dipoles" dalam proses kaji diri
Bagindo Mukhtar.
Integrasi Fisik dan Spiritual:
Keduanya
mengakui tubuh (Darun Nafis) sebagai wahana bagi ruh. Detak jantung yang diatur
oleh Sinoatrial Node (SAN) adalah manifestasi fisik dari kehidupan yang dapat
dirasakan sebagai zikir alamiah, sementara bashirah (mata batin) yang
diasah melalui kaji diri memungkinkan kita melihat tauhidul af'al (keesaan
perbuatan) Alloooh dalam setiap ritme tersebut.
Puncak Kesadaran:
Kedua
jalan ini pada akhirnya mengarah pada kesadaran mendalam akan ALLOOH IS
WATCHING (QS. Al-Hadid: 4). Ini bukan sekadar pengawasan eksternal,
melainkan pencerapan akan kehadiran Ilaaahi yang meliputi segala sesuatu, dari
partikel fundamental (Higgs Boson) hingga Nur Muhammad sebagai arketipe
primordial, semuanya adalah manifestasi dari Wahdatul Wujud. Kesadaran ini
memicu muraqabah (merasa diawasi) yang melahirkan kehati-hatian,
cinta, dan kerinduan.
4. Dampak kepada Masyarakat: Relevansi Kaji Diri di Era Modern
Kajian
mendalam tentang diri, baik melalui pendekatan Bagindo Mukhtar maupun Syeikh
Nafis, memiliki dampak yang sangat signifikan dan transformatif bagi individu
dan masyarakat:
Peningkatan
Kesehatan Mental dan Emosional: Dengan memahami dan mengelola diri,
individu dapat mengurangi stres, kecemasan, dan depresi. Kaji diri mengajarkan
penerimaan diri dan pengembangan resiliensi.
Etika
dan Moralitas yang Kokoh: Kesadaran akan diri sejati dan kehadiran Ilaaahi
yang senantiasa mengawasi mendorong individu untuk berperilaku etis, jujur, dan
bertanggung jawab. Ini adalah fondasi bagi masyarakat yang berintegritas.
Harmoni Sosial dan Lingkungan:
Ketika
individu mengenal dirinya sebagai bagian dari kesatuan wujud (Wahdatul Wujud),
ia akan mengembangkan empati, kasih sayang, dan rasa saling terhubung dengan
sesama manusia dan alam. Konflik berkurang, dan kepedulian terhadap lingkungan
meningkat.
Kepemimpinan
Berbasis Kearifan: Pemimpin yang telah mengkaji dirinya akan memimpin
dengan hikmah, keadilan, dan integritas, tidak digerakkan oleh ego atau ambisi
semata, melainkan oleh kesadaran akan tanggung jawab ilaaahiah.
Inovasi dan Kreativitas:
Kaji
diri membuka pintu bagi intuisi dan inspirasi, yang dapat mendorong inovasi dan
kreativitas dalam berbagai bidang, termasuk sains dan teknologi.
Pada
akhirnya, kaji diri adalah jalan menuju Insan Kamil—manusia paripurna yang
telah mencapai keselarasan sempurna antara dimensi lahiriah dan batiniah. Insan
Kamil adalah pribadi yang mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern
(seperti fisika partikel) dengan kearifan spiritual, melihat kesatuan di balik
kemajemukan, dan hidup dalam harmoni total dengan alam semesta, senantiasa
sadar akan kehadiran Alloooh.
Kesimpulan:
Simfoni Hakikat Diri
Sutan
Bagindo Mukhtar dan Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari, dengan pendekatan kaji
diri mereka, telah memberikan warisan tak ternilai bagi kita. Bagindo Mukhtar
menunjukkan proses bagaimana kita dapat mengupas lapisan ilusi untuk
menemukan diri sejati, sementara Syeikh Nafis memberikan struktur dan
peta jalan tentang bagaimana diri ini terhubung dengan Realitas Ilaaahi.
Keduanya adalah dua sisi dari mata uang yang sama, dua melodi dalam sebuah
simfoni agung yang mengantar manusia pada puncak makrifat.
Dalam
era di mana kita dapat menyingkap rahasia alam semesta melalui Higgs Boson, dan
memahami ritme kehidupan melalui Sinoatrial Node, kita juga diingatkan untuk
tidak melupakan perjalanan ke dalam.
Dengan
mengkaji diri secara mendalam, kita tidak hanya menemukan "Diriku yang
Kukenal" atau memahami "Permata yang Indah" dalam diri kita,
tetapi juga menyadari bahwa seluruh eksistensi adalah manifestasi dari Wujud
Yang Maha Esa, dan bahwa ALLOOH IS WATCHING—sebuah kesadaran yang
menginspirasi kita untuk menjadi Insan Kamil yang membawa kebaikan bagi
semesta.(ms2)

