11 FAKTOR PENGHAMBAT PERTUMBUHAN EKONOMI 8%

Oleh : Bang Yusuf Pulungan (Bang YusPul), Ketua Asosiasi Praktisi Ekonomi Islam Indonesia (APEII)

 


Masih ingat semangat 8% nya Menteri Keuangan Purbaya? Kalau mau mendapatkan pertumbuhan ekonomi 8%, harusnya kebijakan fiskal Presiden Prabowo  seharusnya menghapus segala hambatan yang membuat ekonomi jadi sulit. Menurut  Easy of Doing Business (EoDB) Index jelek sekali. Kita ranking 73 dunia, Singapore ranking 2, Malaysia ranking 12. Thailand ranking 21. Menarik ulasan bang Yusuf Pulungan yang biasa dipanggil bang YusPul terkait perekonomian di Indonesia dalam persfektif yang berbeda tapi menampilkan sisi yang lebih jeli dan analisi yang tajam. Dikutif dari akun media sosialnya di facebook dengan alamat https://web.facebook.com/yusuf.pulungan.1. Beliau memaparkan ada 11 penyebab target 8% nya Purbaya akan menghadapi hambatan yang bersifat sistemik. Apa saja itu? Silahkan para netizen Simak. Ternyata ada 11 masalah krusial penyebabnya ?

1.     Kepastian Hukum yang abu-abu

Ketidakpastian dalam penegakan hukum sering kali menjadi perhatian utama investor di Indonesia. Proses hukum yang lambat dan kadang tidak konsisten membuat investor ragu akan kepastian dalam menyelesaikan konflik bisnis. Singapura dan Malaysia memiliki sistem hukum yang lebih kuat dan bisa diandalkan oleh para pelaku bisnis. Indonesia kebanyakan makelar kasus dan mafia peradilan.

2. Kebijakan/Regulasi yang berubah-ubah dan Tidak Konsisten

Sudah jadi tradisi kalau ganti presiden ganti kebijakan. Perubahan regulasi yang cepat dan sering, baik di tingkat nasional maupun daerah, menciptakan ketidakpastian bagi investor. Beberapa aturan yang tumpang tindih antara pemerintah pusat dan daerah membuat investor kesulitan untuk mendapatkan panduan yang jelas. Hal ini berbeda dengan negara-negara seperti Singapura yang memiliki regulasi lebih stabil dan konsisten. Tidak terlalu terpengaruh oleh perubahan politik.

 

3. Mata Rantai Birokrasi yang Kompleks dan Lambat

Sudah rahasia umum kalau proses perizinan bisnis di Indonesia masih cukup rumit dan panjang, dengan banyak langkah administratif yang memakan waktu. Meski Indonesia telah berupaya menyederhanakan proses ini melalui layanan online, beberapa izin, terutama di sektor yang diatur secara ketat, masih memerlukan banyak persetujuan yang sering kali melibatkan lebih dari satu lembaga atau kementerian.

 4. Budaya Korupsi yang Makin Tinggi

Budaya korupsi dari level bawah, menengah dan atas yang terus terjadi. Korupsi menjadi salah satu penghalang signifikan dalam kegiatan bisnis di Indonesia. Pengusaha sering menghadapi hambatan dalam bentuk biaya tambahan atau pungutan liar untuk mempercepat perizinan atau untuk memenangkan proyek pemerintah. Negara seperti Singapura telah berhasil menekan tingkat korupsi dengan sistem yang transparan dan pengawasan yang ketat. Di Indonesia sejumlah oknum bahkan petinggi Komisi Pemberantasan Korupsinya malah ikut korupsi.

5. Tidak Meratanya  Infrastruktur dan Kurang Memadai

Walaupun Indonesia telah berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur, masih ada tantangan dalam penyediaan fasilitas transportasi, pelabuhan, dan energi yang memadai, terutama di luar Pulau Jawa. Infrastruktur yang kurang berkembang dapat memperlambat proses logistik dan menaikkan biaya bisnis. Singapura dan Malaysia memiliki keunggulan dari segi infrastruktur yang lebih maju dan efisien. Pembangunan infrastruktur di sana lebih murah karena tidak banyak calo tanah maupun calo proyek.

6. Akses terhadap Pembiayaan yang Terbatas dan berbasis Riba (Bunga)

Ironis saat krisis Perusahaan-perusahaan kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia yang mampu bertahan tapi sering kesulitan mendapatkan akses pembiayaan. Selain itu, persyaratan untuk memperoleh pinjaman dari bank cukup ketat dan berbasis Riba. Malaysia dan Thailand menawarkan lebih banyak pilihan pembiayaan bagi UMKM, yang membuat ekosistem bisnis mereka lebih inklusif. Bahkan termasuk skema syari'ah mereka jauh lebih maju.

7. Sengketa Pembebasan Lahan dan Izin Lingkungan

Masih ingat bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatra Barat beberapa bulan yang lalu yang tidak menjadi bencana nasional? Di Indonesia, proses pembebasan lahan untuk proyek-proyek besar seperti pembangunan pabrik atau fasilitas publik bisa memakan waktu yang lama. Ini diperparah dengan persyaratan izin lingkungan yang rumit, yang meskipun penting, terkadang memakan waktu lebih lama dibandingkan negara tetangga. Malaysia dan Thailand cenderung memiliki proses pembebasan lahan yang lebih efisien. Di sana tidak banyak tanah adat atau tanah ulayat. Kalaupun ada, perangkat hukumnya cukup untuk mengatasi pembebasan lahan.

8. Sistem  Pajak yang Rumit

Pemasukan APBN mayoritas dari pajak padahal SDA kita melimpah dan sistem perpajakan di Indonesia masih  rumit, terutama untuk kepatuhan terhadap pajak perusahaan. Banyak perusahaan mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban pajak mereka dengan benar karena kurangnya panduan yang jelas, sementara negara-negara seperti Singapura dan Malaysia memiliki sistem yang lebih sederhana dengan kepatuhan yang lebih mudah diikuti. Apalagi beberapa jenis pajak malah dinaikkan.

9. Kualitas Tenaga Kerja yang masih Rendah

Jumlah tenaga kerja yang banyak tapi rendah kwalitas. Sumber daya manusia di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam hal kualitas dan kompetensi. Meski banyak tenaga kerja muda, keterampilan teknis, khususnya di sektor industri dan teknologi, sering kali masih belum memenuhi standar yang diinginkan investor. Negara-negara seperti Singapura memiliki tenaga kerja yang sangat terlatih dan fokus pada pendidikan vokasional serta keterampilan khusus. Di Indonesia banyak sarjana yang di lapangan tidak bisa apa-apa. Disuruh belajar hal-hal baru juga masih susah.

10. Mekanisme Ekspor dan Impor yang Berbelit-belit

Indonesia masih memiliki banyak aturan yang rumit untuk urusan ekspor dan impor, yang dapat memperpanjang proses distribusi dan menghambat perdagangan. Thailand dan Singapura memiliki proses bea cukai yang lebih efisien dan sederhana, sehingga lebih menarik bagi perusahaan yang bergantung pada rantai pasok global.

11. Sistem Ekonomi yang dipakai masih Kapitalisme Warisan Kolonial Belanda

Inilah inti masalahnya semua bermuara dari sistem kapitalisme yang dipakai sebagai basis perekonomian Indonesia, padahal jelas tidak kompatibel dengan karakter dan pola kehidupan dan nilai moral masyarakat. Seperti kata Rhoma Irama yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin.

Pertanyaanya adalah Anda yakin pertumbuhan ekonomi 8% dapat tercapai?

Baca Juga
Lebih baru Lebih lama