oleh :
1. Tuan Guru Batak (TGB) umumnya
merujuk pada sosok ulama sufi kharismatik asal Simalungun, Sumatera Utara,
yaitu Syekh Abdurrahman Rajagukguk (alm) dan penerusnya, Syekh Dr. Ahmad Sabban el-Rahmany Rajagukguk. Mereka dikenal
sebagai Mursyid Thariqah Naqsyabandiyah yang menyebarkan ajaran Islam moderat,
toleran, dan perekat persatuan di tengah keberagaman adat serta agama di tanah
Batak.
2. Syaikh wal Mursyid Al-Habib Rais Ridjaly bin Hasjim Bin
Thahir adalah Pimpinan &
Mursyid Majlis Al Abrar Indonesia (Thariqat Musthafà wiyyah) – Bekasi Jawa
Barat.
3. Abi Dr. H. Syaikh Ahmad
Baqi Arifin SH., MBA., MM., pimpinan Alkah Dzikir dan Rumah Suluk Baitul Jafar
Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah.
4.
Kiyai Kh.Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si (Kepala Laboratorium Fisika
Nuklir, Universitas Sumatera Utara (USU)-Medan, Kolumnis Garudanews-Medan dan
Tabloid Duta Bangsa-Jakarta).
Abstrak
Artikel ini mengeksplorasi titik temu antara konsep-konsep
fundamental dalam tasawuf Islam—yaitu Syuhud (penyaksian), Fana’ (lenyapnya
ego) dan Baqa’ (kekal dalam Alloooh)—dengan paradigma fisika kuantum dan
kerangka metafisika-spiritual. Dengan pendekatan analitis-interdisipliner,
tulisan ini berargumen bahwa pemahaman tentang realitas dalam fisika kuantum,
seperti dualitas gelombang-partikel, prinsip ketidakpastian, dan keterikatan
(entanglement), memberikan analogi yang menarik untuk memahami proses spiritual
menuju penyatuan hakiki (tauhid). Analisis menunjukkan bahwa pencapaian
makrifat (pengetahuan hakikat) melalui jalan Fana’ dan Baqa’ merefleksikan
pergeseran persepsi dari realitas fenomenal (alam syahadah) menuju realitas
noumenal (alam gaib), yang memiliki resonansi dengan interpretasi metafisika
dalam mekanika kuantum. Artikel ini menyimpulkan bahwa dialog antara sains
modern dan spiritualitas tradisional dapat memperkaya pemahaman kita tentang
hakikat eksistensi dan kesadaran, sekaligus menawarkan landasan integratif
untuk tauhid yang hidup dan aplikatif.
Kata Kunci: Syuhud, Fana’, Baqa’, Fisika Kuantum,
Metafisika, Spiritualitas, Hakikat, Tauhid, Makrifat.
1.
Pendahuluan
Di tengah dominasi paradigma materialisme dalam sains modern,
muncul kerinduan untuk menyelaraskan pemahaman ilmiah dengan kebijaksanaan
spiritual tradisional. Fisika kuantum, dengan temuan-temuan revolusionernya
pada awal abad ke-20, telah membuka pintu bagi dialog tersebut. Paradigma
kuantum menggambarkan realitas yang jauh lebih misterius, saling terhubung, dan
bergantung pada pengamat (observer) daripada yang dibayangkan fisika klasik
(Newtonian). Secara paralel, tradisi tasawuf dalam Islam telah berabad-abad
membahas hakikat realitas, kesadaran, dan hubungan antara manusia dengan Sang
Pencipta melalui konsep-konsep mendalam seperti Syuhud, Fana’, dan Baqa’.
Artikel ini bermaksud menjembatani dua domain pengetahuan ini dengan
menganalisis konsep sufi tersebut melalui lensa fisika kuantum dan metafisika
spiritual. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa insight dari kedua bidang
saling mengiluminasi, memperkaya pemahaman tentang tauhid (keesaan Alloooh) dan
perjalanan manusia menuju makrifat (gnosis).
2. Tinjauan Konseptual
2.1. Syuhud, Fana’, dan Baqa’ dalam Tasawuf Syuhud
secara harfiah berarti “penyaksian”.
Dalam terminologi sufi, ini merujuk pada pengalaman langsung
(dzauq) menyaksikan kehadiran dan tanda-tanda Alloooh di segala penjuru alam,
dan pada tingkat tertinggi, menyaksikan Wujud Mutlak itu sendiri (Al-Junaid, w.
910 M). Fana’ (annihilation) adalah proses lenyapnya kesadaran diri (ego/nafs)
dan atribut-atribut kedirian yang terbatas dalam kesadaran akan Kehadiran Ilahi
(Al-Ghazali, 1058-1111). Ini bukan penghancuran fisik, melainkan peleburan
kehendak dan persepsi individu ke dalam Kehendak dan Persepsi Ilahi. Baqa’
(subsistence) adalah keadaan kekal dan abadi yang mengikuti Fana’, di mana
seorang hamba “hidup” dengan sifat-sifat Alloooh, bertindak sebagai cermin yang
memantulkan Asma dan Sifat Alloooh di dunia (Ibn ‘Arabi, 1165-1240). Ketiga
tahapan ini merupakan jalan berkesinambungan menuju realisasi tauhid hakiki.
2.2. Fisika Kuantum dan Realitas yang Membingungkan Fisika
kuantum mengungkap perilaku dasar materi dan energi pada skala subatomik.
Beberapa prinsip kuncinya yang relevan untuk diskusi ini adalah:
Dualitas Gelombang-Partikel: Entitas kuantum (seperti
elektron atau foton) dapat menampilkan sifat sebagai partikel (lokal dan
terdefinisi) atau gelombang (tersebar dan non-lokal), tergantung pada bagaimana
ia diukur (de Broglie, 1924; Bohr, 1927).
Prinsip Ketidakpastian Heisenberg: Tidak mungkin untuk
mengetahui secara simultan dan presisi pasangan besaran tertentu, seperti
posisi dan momentum suatu partikel. Ini bukan keterbatasan alat, melainkan
sifat fundamental realitas (Heisenberg, 1927).
Keterikatan Kuantum (Quantum Entanglement): Dua atau lebih
partikel dapat terhubung sedemikian rupa sehingga keadaan satu partikel secara
instan mempengaruhi keadaan partikel lainnya, terlepas dari jarak yang
memisahkan mereka (Einstein, Podolsky, & Rosen, 1935; Schrödinger, 1935).
Ini menantang konsep lokalitas.
2.3. Metafisika, Hakikat, Tauhid, dan Makrifat Metafisika
membahas realitas di balik yang fisik.
Dalam Islam, hakikat adalah kebenaran absolut atau realitas
sejati di balik penampakan (zahir). Tauhid adalah pilar utama, yang tidak hanya
berarti mengesakan Alloooh secara verbal, tetapi menyaksikan dan mengalami
keesaan-Nya dalam segala aspek wujud. Makrifat adalah pengetahuan langsung,
intuitif, dan eksperiensial tentang Alloooh, yang diperoleh melalui penyucian
hati (tazkiyatun nafs) dan pengalaman spiritual, melampaui pengetahuan
diskursif (‘ilm).
3. Analisis Integratif: Titik Temu dan Resonansi
3.1. Syuhud dan Peran Pengamat
Dalam Mekanika Kuantum Dalam fisika kuantum, pengukuran
(act of observation) memegang peran krusial—ia “memaksa” fungsi gelombang yang
penuh kemungkinan untuk “runtuh” menjadi satu keadaan tertentu (von Neumann,
1932).
Hal ini mengisyaratkan hubungan intrinsik antara kesadaran
pengamat dan realitas fisik. Syuhud dalam tasawuf dapat dipandang sebagai
tingkat pengamatan atau penyaksian tertinggi, di mana sang salik (penempuh
jalan) menjadi “pengamat murni” yang menyaksikan Realitas Tunggal di balik
segala fenomena. Jika dalam fisika kuantum pengamat memengaruhi realitas
terukur, dalam Syuhud, penyaksian spiritual justru mengungkap realitas yang
lebih mendasar, yaitu Wujud yang menjadi sumber segala manifestasi.
3.2. Fana’ dan Lenyapnya Diri
Partikular ke dalam Medan Kuantum Konsep Fana’ menemukan
analogi menarik dalam teori medan kuantum. Partikel-partikel elementer dipahami
sebagai eksitasi atau getaran lokal dari suatu medan kuantum yang mendasari dan
menyeluruh (seperti medan Higgs). Partikel muncul (dimanifestasikan) dan lenyap
(kembali ke keadaan dasar medan). Proses Fana’ dapat dibayangkan sebagai
kembalinya “diri partikular” (ego/nafs) yang terdefinisi dan terisolasi, ke
dalam “Medan Wujud” atau “Samudra Keberadaan” (al-Haqq) yang tak terbatas.
Lenyapnya batas ego (fana’ an-nafs) paralel dengan ide bahwa pada tingkat
fundamental, realitas bersifat non-lokal dan saling terhubung—sebagaimana
dinyatakan dalam keterikatan kuantum.
3.3. Baqa’ dan Keterikatan (Entanglement) dengan
Sumber Setelah Fana’, keadaan Baqa’ menggambarkan kehidupan baru di mana
individu bertindak selaras sepenuhnya dengan Kehendak Ilaaahi.
Ini mirip dengan keadaan dua partikel yang terikat (entangled).
Meskipun partikel A dan B terpisah jauh, keadaan mereka terkorelasi sempurna;
mengukur A secara instan menentukan keadaan B. Dalam analogi spiritual, sang
salik yang mencapai Baqa’ menjadi begitu “terikat” dengan Sumbernya (Alloooh),
sehingga kehendak, pengetahuan, dan tindakannya mencerminkan Kehendak, Ilmu,
dan Perbuatan Ilahi. Dia menjadi “tangan Alloooh di bumi” (yadullah fil ard),
sebuah manifestasi dari sifat-sifat Alloooh, tanpa mengklaim keAllooohan untuk
dirinya sendiri (ittihad). Ini adalah puncak dari tauhid operatif.
3.4. Makrifat dan Pengetahuan Non-Diskursif tentang
Hakikat Fisika kuantum menunjukkan bahwa realitas subatomik tidak dapat
dideskripsikan sepenuhnya dengan bahasa klasik dan logika biner.
Pengetahuan tentangnya memerlukan matematika probabilitas dan
interpretasi filosofis. Demikian pula, makrifat dalam tasawuf adalah
pengetahuan yang melampaui bentuk-bentuk konseptual (‘aql), diperoleh melalui
pengalaman langsung (dzauq). Prinsip ketidakpastian Heisenberg dapat menjadi
metafora untuk keterbatasan akal rasional dalam memahami Hakikat Mutlak.
Hakikat Alloooh (Dzat) tetap tidak terjangkau, namun Sifat dan
Tajalli-Nya (manifestasi) dapat “disaksikan” (syuhud).
4. Diskusi: Implikasi dan Relevansi Kontemporer Integrasi
ini bukan berarti menyamakan Alloooh dengan medan kuantum, atau mengurangi
pengalaman spiritual menjadi fenomena fisika.
Analogi yang dibangun bersifat metaforis dan iluminatif,
bertujuan untuk membangun jembatan pemahaman.
Dalam konteks modern yang sering memisahkan sains dan agama,
dialog ini menawarkan beberapa hal:
Landasan Kosmologis untuk
Spiritualitas:
Memberikan kerangka konseptual yang dapat diterima akal modern
untuk memahami perjalanan spiritual.
Penguatan Tauhid:
Menunjukkan bahwa keesaan Alloooh (tauhid) bukan hanya doktrin
teologis, tetapi mungkin tercermin dalam sifat dasar realitas fisik yang
terpadu dan saling terhubung.
Etika dan Tanggung Jawab:
Jika pada tingkat fundamental segala sesuatu terhubung (seperti
entanglement), maka tindakan dan niat individu memiliki resonansi yang lebih
luas dalam jaringan wujud, memperkuat tanggung jawab moral (akhlaq).
Pengetahuan Holistik:
Mendorong pendekatan pengetahuan yang memadukan observasi
empiris, penalaran rasional, dan intuisi spiritual (integral science).
5. Kesimpulan
Konsep Syuhud, Fana’, dan Baqa’ dalam tasawuf,
ketika dibaca melalui lensa fisika kuantum dan metafisika spiritual, mengungkapkan
resonansi yang dalam tentang sifat realitas, kesadaran, dan kesatuan wujud.
Fisika kuantum, dengan menggambarkan dunia yang tidak pasti,
non-lokal, dan bergantung pada pengamat, secara tidak langsung membuka ruang
untuk mempertimbangkan dimensi kesadaran dan realitas transenden yang telah
lama menjadi wilayah kajian spiritualitas.
Perjalanan menuju makrifat dan realisasi tauhid melalui tahapan
Fana’ dan Baqa’ dapat dilihat sebagai proses penyelarasan dan penyatuan
kesadaran individu dengan Realitas Mutlak, sebuah proses yang menemukan gema
dalam bahasa dan paradigma sains paling mutakhir.
Dialog antara kedua bidang ini perlu terus dikembangkan untuk
merajut kembali kesatuan pengetahuan (unity of knowledge) dalam peradaban
manusia.

