MEMUAT WAKTU...

Reputasi Klinik Djohan Tebing Tinggi Dipertaruhkan Usai Viral Dugaan Malprosedural Oknum Perawat.

Tebing Tinggi,garudanews.net//Polemik pelayanan di Klinik Djohan, Kota Tebing Tinggi, yang viral di berbagai platform media sosial dan media online dinilai berpotensi memengaruhi reputasi serta kredibilitas institusi pelayanan kesehatan tersebut.

Sorotan publik mencuat setelah pemberitaan mengenai dugaan pelayanan yang dinilai tidak sesuai standar terhadap seorang pasien anak berusia 6 tahun ramai diperbincangkan.

Seiring pemberitaan tersebut menyebar, sejumlah warganet turut mengungkapkan pengalaman maupun keluhan mereka saat mendapatkan pelayanan di Klinik Djohan.

Sedikitnya lebih dari 10 akun menyampaikan keluhan melalui kolom komentar pada unggahan media sosial terkait pelayanan di klinik tersebut.

Sebagian komentar menyoroti sikap petugas yang dinilai kurang ramah, jutek, hingga terkesan arogan saat melayani pasien.

Seorang pengguna TikTok dengan akun @ZuneyZaylin menulis, “Di liat bnyk yg komen si mbak ny pelayanannya agak jutek gitu ya dengan pasien, ya semoga aja ni viral mbak nya bisa memperbaiki pelayanan nya dgn baik ya.”

Komentar serupa disampaikan akun @Vera. Ia mengaku anaknya sempat enggan berobat karena memiliki pengalaman dengan petugas yang dinilainya kurang bersahabat.

“Anak aku ditahankan sakit tak mau berobat. Karena judes kali petugasnya, kalah dokter dibuatnya,” tulisnya.

Sementara itu, akun @Muliadi Mul mempertanyakan sikap manajemen klinik terhadap petugas yang dianggap tidak menjalankan tugas pelayanan dengan baik.

“Dr Johan itu menggaji dia, ya itu sudah menjadi tugasnya, kewajibannya, pecat !!” tulisnya.

Keluhan lainnya datang dari @Meilina Camay yang mengaku pernah mendapatkan pengalaman kurang menyenangkan ketika meminta surat keterangan BPJS untuk keperluan rujukan.

“Tapi emank sih pas kita minta surat keterangan BPJS utk rujukan sombong bgt susternya gak ramah dan arogan x. Ya menurutku perbaiki aja tata cara melayani pasien yang membutuhkan bantuan,” komentarnya.

Akun @TIUR bahkan meminta agar evaluasi terhadap petugas yang dianggap tidak menjalankan tugas dengan baik dilakukan secara serius.

“Up terus orang-orang yang tidak mengemban tugas dengan baik masih banyak yang butuh kerja, kalau orang kayak gitu biar aja di-PHK,” tulisnya.

Sedangkan @ImeLda Sinaga mengaku memiliki kesan kurang baik terhadap pelayanan bagian depan klinik.

“Untunglah aku gak jadi faskes di sana, dan ku lihat sombong-sombong admin/perawat yang di depan-depan itu,” tulisnya.

Meski demikian, rangkaian komentar tersebut tidak serta-merta dapat dijadikan kesimpulan bahwa seluruh pelayanan di Klinik Djohan buruk.

Namun, munculnya sejumlah keluhan secara terbuka patut menjadi bahan evaluasi bagi pihak manajemen.

Praktisi hukum Alfianto, SH, mengatakan bahwa dalam industri pelayanan kesehatan, kompetensi tenaga medis bukan satu-satunya aspek yang menentukan tingkat kepercayaan masyarakat.

Menurutnya, sikap, komunikasi, empati, keramahan, serta kemampuan memberikan pelayanan secara profesional juga merupakan bagian penting dalam membangun pengalaman dan kepercayaan pasien.

“Karena itu, apabila terdapat petugas yang berulang kali mendapat keluhan terkait sikap dan pelayanan, manajemen seyogianya melakukan evaluasi secara objektif dan memberikan pembinaan maupun tindakan sesuai ketentuan,” ujarnya, Kamis (20/8/2026).

Menurut Alfianto, mempertahankan pekerja yang dinilai tidak profesional tanpa evaluasi serius justru berpotensi menjadi beban bagi institusi.

Sebab, perilaku satu orang dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap keseluruhan organisasi.

“Terlebih, di era media sosial, pengalaman buruk pasien dapat dengan cepat menyebar dan membentuk opini publik. 

Reputasi yang dibangun selama bertahun-tahun dapat terganggu hanya karena persoalan pelayanan yang sebenarnya dapat dicegah melalui pengawasan dan pembinaan internal,” jelasnya.

Sebelumnya, pihak keluarga pasien berusia 6 tahun, Irlan Jaya Situmorang, SH, telah menyampaikan keluhan terkait pelayanan yang mereka terima di Klinik Djohan. 

Persoalan tersebut kemudian mendapat perhatian publik dan menjadi bahan pemberitaan sejumlah media.

Hingga berita ini diterbitkan, upaya konfirmasi kepada penanggung jawab Klinik Djohan, dr. Junica Handayani, belum mendapat balasan lebih lanjut.(Tim).
Baca Juga
Lebih baru Lebih lama