MEMUAT WAKTU...

FGD UIN Mataram Gali Khazanah Naskah dan Tradisi Kepesantrenan Sasak, Samawa, dan Mbojo Untuk Peneguhan Identitas Keilmuan Islam Nusantara.

Mataram,garudanews//10 September 2026 Wakil Rektor III UIN Mataram, Prof. Dr. H. Jumarim, MHI, menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Menggali Khazanah Naskah dan Tradisi Kepesantrenan Sasak, Samawa dan Mbojo untuk Peneguhan Identitas Keilmuan Islam Nusantara.”

Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk menggali kekayaan intelektual Islam lokal sekaligus menjajaki pendirian Pusat Studi Naskah dan Pesantren UIN Mataram.

FGD tersebut menghadirkan Ahmad Baso Almakassari sebagai pembicara, serta dihadiri tokoh adat Sasak, tokoh agama, dan akademisi. 

Pertemuan ini mempertemukan berbagai perspektif dalam upaya menghidupkan kembali khazanah naskah dan tradisi kepesantrenan yang menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan Islam di Nusa Tenggara Barat.

Dalam keterangannya, Wakil Rektor III UIN Mataram menerangkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk usaha untuk menjajaki pendirian Pusat Studi Naskah dan Pesantren UIN Mataram. 

Pusat studi tersebut diharapkan menjadi ruang untuk mengkaji, mendokumentasikan, dan mengembangkan khazanah keilmuan Islam yang tumbuh dalam tradisi masyarakat Sasak, Samawa, dan Mbojo.

“FGD ini merupakan salah satu bentuk usaha kita untuk menjajaki pendirian Pusat Studi Naskah dan Pesantren UIN Mataram. 

Kita ingin agar kekayaan naskah dan tradisi keilmuan Islam yang ada di NTB tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi juga terus dikaji dan dikembangkan sebagai sumber pengetahuan,” terang Wakil Rektor III.

Sementara itu, Ahmad Baso Almakassari memberikan gambaran mengenai keberadaan naskah-naskah Sasak yang perlu mendapat perhatian dan kajian lebih lanjut. 

Menurutnya, khazanah naskah Sasak tidak hanya berada di Lombok, tetapi juga tersebar di beberapa lokasi di luar Lombok. 

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya penelusuran, pengkajian, dan penyatuan data naskah agar kekayaan intelektual tersebut dapat dipahami secara lebih utuh.

Pembahasan mengenai naskah-naskah Sasak menjadi salah satu bagian penting dalam FGD. 

Naskah tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber yang dapat mengungkap perkembangan pemikiran keislaman, tradisi pendidikan, dan dinamika sosial masyarakat Nusantara.

Kehadiran tokoh adat Sasak, tokoh agama, dan akademisi turut memperkaya diskusi. 

Pertemuan ini membuka ruang dialog antara pengetahuan yang diwariskan melalui tradisi masyarakat dengan pendekatan akademik dalam pengkajian naskah dan sejarah kepesantrenan.

Melalui FGD ini, UIN Mataram menegaskan komitmennya untuk menjadikan khazanah Islam lokal sebagai bagian dari penguatan identitas keilmuan Islam Nusantara. 

Gagasan pendirian Pusat Studi Naskah dan Pesantren diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem kajian yang menghubungkan warisan intelektual Sasak, Samawa, dan Mbojo dengan pengembangan keilmuan Islam di masa kini.(A.Turmuzi).
Baca Juga
Lebih baru Lebih lama