1. Muhammad Dimas Arjen Bintaro (Mahasiswa Progam Studi Ilmu Filsafat, Fakultas Agama Islam dan Humaniora (FAIH) – Universitas Pembangunan Panca Budi ( UNPAB) – Medan.
2.Kiyai Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si., M.Si (Kepala Laboratorium Fisika Nuklir Universitas Sumatera Utara (USU)-Medan, Peneliti Pusat Unggulan Inovasi Ipteks (PUI) Karbon Kemenyan, Program Studi (Prodi) Fisika-Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)-USU), Dosen Mata Kuliah Fisika Sawit USU, Dosen Mata Kuliah Filsafat Ketuhanan, Urban Sufisme - Universitas Pembangunan Panca Budi (UNPAB) -Medan.
https://linktr.ee/muhammadsontangsihotang
https://linktr.ee/sontangsihotang
Correspondence: muhammad.sontang@usu.ac.id
URBAN SUFISME DI KOTA
BINJAI
Filsafat, Konsep, Teori, Program Kerja, Kegiatan, & Aplikasi
Berdampak untuk Remaja Millennial
1. Pendahuluan
Kota Binjai, yang dikenal dengan julukan "Kota
Rambutan", kini tengah bertransformasi menjadi area penyangga (hinterland)
yang sibuk bagi Medan. Di balik gemerlap kafe dan pesatnya pembangunan
infrastruktur, muncul sebuah fenomena spiritual yang disebut Urban Sufisme. Fenomena ini bukan sekadar tren,
melainkan respons atas dahaga spiritual milenial Binjai yang mulai jenuh dengan
materialisme dan tekanan hidup modern.
Dalam sebuah makalah ilmiah, bagian Kajian Terdahulu
(Literature Review) berfungsi untuk memetakan posisi penelitian Anda di antara
penelitian yang sudah ada, sekaligus menunjukkan orisinalitas argumen Anda
mengenai Kota Binjai.
Berikut adalah draf Kajian Terdahulu
untuk makalah tersebut:
KAJIAN TERDAHULU (PREVIOUS STUDIES)
Penelitian mengenai Urban Sufisme telah berkembang pesat dalam
dua dekade terakhir. Untuk memperkuat argumen dalam makalah ini, berikut adalah
ringkasan beberapa studi relevan yang menjadi fondasi dan pembanding bagi
fenomena Urban Sufisme di Kota Binjai:
1. Urban Sufisme di Indonesia (Julia Day
Howell, 2001)
Penelitian klasik Howell berjudul "Sufism and the Indonesian
Middle Class" menjadi rujukan utama. Howell menemukan bahwa
masyarakat kelas menengah di perkotaan besar (seperti Jakarta) beralih ke
Tasawuf bukan sebagai bentuk pelarian dari modernitas, melainkan sebagai upaya
mencari makna hidup di tengah kesibukan.
·
Relevansi: Memberikan dasar teori bahwa Sufisme sangat
kompatibel dengan gaya hidup perkotaan.
·
Perbedaan: Penelitian ini fokus pada kelas menengah
umum, sementara makalah kita berfokus spesifik pada Remaja
Millennial di Binjai.
2. Sufisme Digital dan Milenial (Inayah
Rohmaniyah, 2017)
Rohmaniyah dalam kajiannya mengenai "Spiritualitas Kaum Muda
di Era Digital" menjelaskan bagaimana milenial mengonsumsi
nilai-nilai Sufistik melalui media sosial (Instagram/YouTube). Ia mencatat
adanya pergeseran dari otoritas guru (Mursyid) tradisional ke konten-konten
spiritual yang bersifat visual dan instan.
·
Relevansi: Mendukung konsep Digital Dhikr Clinic
yang diusulkan dalam program kerja.
· Perbedaan: Kajian Rohmaniyah bersifat umum nasional,
sedangkan makalah ini mengontekstualisasikan nilai tersebut dengan geografi sosial Kota Binjai.
3. Spiritualitas Perkotaan di Sumatera Utara
(Fahrul Rizal, 2020)
Kajian mengenai "Gerakan Tasawuf Modern di
Kota Medan" membahas bagaimana kota-kota besar di Sumatera
Utara menghadapi arus sekularisme. Penelitian ini mencatat bahwa kedekatan
emosional masyarakat Melayu dan Islam di wilayah ini membuat Sufisme lebih
mudah diterima secara kultural.
·
Relevansi: Binjai memiliki karakteristik sosiologis yang
mirip dengan Medan (heterogenitas suku namun kuat dalam tradisi keislaman).
· Perbedaan: Makalah ini mengeksplorasi aplikasi praktis (program kerja) yang lebih spesifik
untuk remaja Binjai, bukan sekadar pemetaan gerakan.
4. Tasawuf sebagai Psikoterapi Modern (Hamdani
Bakran Adz-Dzaky)
Dalam bukunya "Konseling dan Psikoterapi
Islam", ia menguraikan bagaimana metode zikir dan pembersihan
jiwa (Tazkiyatun Nafs) dapat menyembuhkan penyakit mental
masyarakat urban seperti depresi dan kecemasan.
·
Relevansi: Menjadi dasar teori untuk bagian Aplikasi Berdampak bagi kesehatan mental milenial.
Sintesis dan Posisi Makalah
Berdasarkan kajian-kajian di atas, posisi makalah "Urban Sufisme di Kota Binjai" ini adalah:
1. Pengisian Celah (Gap Filling): Belum banyak kajian mendalam yang secara
spesifik membedah kota satelit seperti Binjai. Kebanyakan
studi berfokus pada megapolitan seperti Jakarta atau ibu kota provinsi seperti
Medan.
2. Fokus Demografis: Makalah ini secara khusus menyasar Remaja Millennial yang memiliki tantangan unik berupa FOMO (Fear of Missing Out) dan tekanan media sosial
yang tinggi di kota berkembang.
3. Orientasi Solusi: Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang
mayoritas bersifat deskriptif (menggambarkan keadaan), makalah ini menawarkan Program Kerja dan Kegiatan Konkret yang bisa langsung
diaplikasikan oleh organisasi kepemudaan di Binjai.
2. Filsafat dan Konsep Dasar
Urban Sufisme di Binjai tidak meminta pengikutnya untuk
"uzlah" (mengasingkan diri) ke gunung atau gua. Sebaliknya, ia
membawa nilai-nilai sufistik ke pusat kota.
·
Filsafat: Al-Khalwat fi al-Jalwat
(Senyap di tengah keramaian). Intinya adalah menjaga hati tetap terpaku pada
Tuhan meskipun raga sedang sibuk bekerja di perkantoran Sudirman atau berbisnis
di Tanah Lapang Binjai.
·
Konsep: Re-spiritualisasi gaya hidup. Tasawuf di sini
diposisikan sebagai "psikoterapi" bagi jiwa yang stres akibat
kompetisi ekonomi dan tuntutan media sosial.
3. Kerangka Teori
Urban Sufisme di Binjai dapat dibedah melalui dua lensa teori
utama:
1. Teori Modernitas Cair (Zygmunt Bauman): Masyarakat urban hidup dalam ketidakpastian.
Sufisme hadir sebagai "jangkar" yang memberikan ketenangan di tengah
perubahan nilai yang terlalu cepat.
2. Teori Deprivasi Relatif: Remaja milenial sering merasa
"kurang" karena membandingkan hidup dengan orang lain di media
sosial. Sufisme mengajarkan konsep Qana’ah (merasa
cukup) sebagai penawar kecemasan.
4. Program Kerja Strategis
Untuk merangkul milenial Binjai, organisasi atau komunitas Urban
Sufisme perlu mengadopsi program yang relevan:
|
Nama Program |
Deskripsi |
Tujuan |
|
Sufi-Co (Sufi Coffee) |
Kajian santai di kafe-kafe
hits Binjai dengan pendekatan diskusi ringan. |
Menghapus sekat kaku antara
agama dan tempat nongkrong. |
|
Digital Dhikr Clinic |
Penggunaan aplikasi meditasi
berbasis zikir dan konten dakwah visual. |
Memanfaatkan gawai untuk
kesehatan mental. |
|
Binjai Berbagi (Urban Philanthropy) |
Penyaluran sedekah kreatif
untuk pedagang kecil atau penyapu jalan. |
Mengubah spiritualitas
individu menjadi aksi sosial. |
5. Kegiatan Implementatif untuk Milenial
Agar tidak membosankan, kegiatan Urban Sufisme di Binjai harus
bersifat partisipatif:
·
Zikir
Night Walk: Melakukan jalan
santai di sekitar Lapangan Merdeka Binjai pada malam hari sembari melakukan
zikir sirr (dalam hati).
·
Workshop
"Soul Management": Pelatihan mengelola emosi dan amarah menggunakan teknik
pernapasan dan pemaknaan asmaul husna.
·
Sufi
Art Performance: Kolaborasi musik
modern dengan syair-syair Jalaluddin Rumi atau Hamzah Fansuri untuk menarik
minat seni anak muda.
6. Aplikasi Berdampak: Mengapa Penting untuk
Milenial?
Penerapan Urban Sufisme di Binjai memberikan dampak nyata pada
tiga pilar utama kehidupan remaja:
A. Kesehatan Mental (Mental Wellness)
Milenial Binjai sering terjebak dalam hustle
culture. Sufisme mengajarkan Muraqabah (kesadaran
penuh bahwa Tuhan mengawasi), yang secara psikologis mirip dengan teknik mindfulness untuk mengurangi kecemasan.
B. Etika Digital
Di era hoaks dan cyber-bullying,
konsep Adab dalam tasawuf melatih milenial Binjai untuk
melakukan Tabayyun (klarifikasi) dan menjaga lisan (serta jempol)
di media sosial.
C. Resiliensi Ekonomi
Sufisme mengajarkan tawakal yang aktif. Milenial diajak untuk
berikhtiar maksimal dalam karier namun tidak hancur secara mental jika
mengalami kegagalan, karena nilai diri mereka tidak ditentukan oleh materi
semata.
7. Kesimpulan
Urban Sufisme di Kota Binjai adalah jembatan antara tradisi
spiritual masa lalu dengan dinamika modernitas masa kini. Bagi milenial Binjai,
ini adalah jalan untuk menjadi pribadi yang Modern secara Otak, namun Klasik
secara Hati. Dengan program yang tepat, Urban Sufisme bukan lagi hal
yang "kuno", melainkan sebuah gaya hidup cerdas untuk meraih
kebahagiaan yang substansial.
"Di Binjai kita mencari nafkah, di Sufisme kita menemukan
arah."
URBAN SUFISME DI KOTA
BINJAI
Filsafat, Konsep, Teori, Program Kerja, Kegiatan, & Aplikasi
Berdampak untuk Remaja Millennial
1. Pendahuluan
Kota Binjai, yang dikenal dengan julukan "Kota
Rambutan", kini tengah bertransformasi menjadi area penyangga (hinterland)
yang sibuk bagi Medan. Di balik gemerlap kafe dan pesatnya pembangunan
infrastruktur, muncul sebuah fenomena spiritual yang disebut Urban Sufisme. Fenomena ini bukan sekadar tren,
melainkan respons atas dahaga spiritual milenial Binjai yang mulai jenuh dengan
materialisme dan tekanan hidup modern.
Dalam sebuah makalah ilmiah, bagian Kajian Terdahulu
(Literature Review) berfungsi untuk memetakan posisi penelitian Anda di antara
penelitian yang sudah ada, sekaligus menunjukkan orisinalitas argumen Anda
mengenai Kota Binjai.
Berikut adalah draf Kajian Terdahulu
untuk makalah tersebut:
KAJIAN TERDAHULU (PREVIOUS STUDIES)
Penelitian mengenai Urban Sufisme telah berkembang pesat dalam
dua dekade terakhir. Untuk memperkuat argumen dalam makalah ini, berikut adalah
ringkasan beberapa studi relevan yang menjadi fondasi dan pembanding bagi
fenomena Urban Sufisme di Kota Binjai:
1. Urban Sufisme di Indonesia (Julia Day
Howell, 2001)
Penelitian klasik Howell berjudul "Sufism and the Indonesian
Middle Class" menjadi rujukan utama. Howell menemukan bahwa
masyarakat kelas menengah di perkotaan besar (seperti Jakarta) beralih ke
Tasawuf bukan sebagai bentuk pelarian dari modernitas, melainkan sebagai upaya
mencari makna hidup di tengah kesibukan.
·
Relevansi: Memberikan dasar teori bahwa Sufisme sangat
kompatibel dengan gaya hidup perkotaan.
·
Perbedaan: Penelitian ini fokus pada kelas menengah
umum, sementara makalah kita berfokus spesifik pada Remaja
Millennial di Binjai.
2. Sufisme Digital dan Milenial (Inayah
Rohmaniyah, 2017)
Rohmaniyah dalam kajiannya mengenai "Spiritualitas Kaum Muda
di Era Digital" menjelaskan bagaimana milenial mengonsumsi
nilai-nilai Sufistik melalui media sosial (Instagram/YouTube). Ia mencatat
adanya pergeseran dari otoritas guru (Mursyid) tradisional ke konten-konten
spiritual yang bersifat visual dan instan.
·
Relevansi: Mendukung konsep Digital Dhikr Clinic
yang diusulkan dalam program kerja.
· Perbedaan: Kajian Rohmaniyah bersifat umum nasional,
sedangkan makalah ini mengontekstualisasikan nilai tersebut dengan geografi sosial Kota Binjai.
3. Spiritualitas Perkotaan di Sumatera Utara
(Fahrul Rizal, 2020)
Kajian mengenai "Gerakan Tasawuf Modern di
Kota Medan" membahas bagaimana kota-kota besar di Sumatera
Utara menghadapi arus sekularisme. Penelitian ini mencatat bahwa kedekatan
emosional masyarakat Melayu dan Islam di wilayah ini membuat Sufisme lebih
mudah diterima secara kultural.
·
Relevansi: Binjai memiliki karakteristik sosiologis yang
mirip dengan Medan (heterogenitas suku namun kuat dalam tradisi keislaman).
·
Perbedaan: Makalah ini mengeksplorasi aplikasi praktis (program kerja) yang lebih spesifik
untuk remaja Binjai, bukan sekadar pemetaan gerakan.
4. Tasawuf sebagai Psikoterapi Modern (Hamdani
Bakran Adz-Dzaky)
Dalam bukunya "Konseling dan Psikoterapi
Islam", ia menguraikan bagaimana metode zikir dan pembersihan
jiwa (Tazkiyatun Nafs) dapat menyembuhkan penyakit mental
masyarakat urban seperti depresi dan kecemasan.
·
Relevansi: Menjadi dasar teori untuk bagian Aplikasi Berdampak bagi kesehatan mental milenial.
Sintesis dan Posisi Makalah
Berdasarkan kajian-kajian di atas, posisi makalah "Urban Sufisme di Kota Binjai" ini adalah:
1. Pengisian Celah (Gap Filling): Belum banyak kajian mendalam yang secara
spesifik membedah kota satelit seperti Binjai. Kebanyakan
studi berfokus pada megapolitan seperti Jakarta atau ibu kota provinsi seperti
Medan.
2. Fokus Demografis: Makalah ini secara khusus menyasar Remaja Millennial yang memiliki tantangan unik berupa FOMO (Fear of Missing Out) dan tekanan media sosial
yang tinggi di kota berkembang.
3. Orientasi Solusi: Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang
mayoritas bersifat deskriptif (menggambarkan keadaan), makalah ini menawarkan Program Kerja dan Kegiatan Konkret yang bisa langsung
diaplikasikan oleh organisasi kepemudaan di Binjai.
2. Filsafat dan Konsep Dasar
Urban Sufisme di Binjai tidak meminta pengikutnya untuk
"uzlah" (mengasingkan diri) ke gunung atau gua. Sebaliknya, ia
membawa nilai-nilai sufistik ke pusat kota.
·
Filsafat: Al-Khalwat fi al-Jalwat
(Senyap di tengah keramaian). Intinya adalah menjaga hati tetap terpaku pada
Tuhan meskipun raga sedang sibuk bekerja di perkantoran Sudirman atau berbisnis
di Tanah Lapang Binjai.
·
Konsep: Re-spiritualisasi gaya hidup. Tasawuf di sini
diposisikan sebagai "psikoterapi" bagi jiwa yang stres akibat
kompetisi ekonomi dan tuntutan media sosial.
3. Kerangka Teori
Urban Sufisme di Binjai dapat dibedah melalui dua lensa teori
utama:
1. Teori Modernitas Cair (Zygmunt Bauman): Masyarakat urban hidup dalam ketidakpastian.
Sufisme hadir sebagai "jangkar" yang memberikan ketenangan di tengah
perubahan nilai yang terlalu cepat.
2. Teori Deprivasi Relatif: Remaja milenial sering merasa
"kurang" karena membandingkan hidup dengan orang lain di media
sosial. Sufisme mengajarkan konsep Qana’ah (merasa
cukup) sebagai penawar kecemasan.
4. Program Kerja Strategis
Untuk merangkul milenial Binjai, organisasi atau komunitas Urban
Sufisme perlu mengadopsi program yang relevan:
|
Nama Program |
Deskripsi |
Tujuan |
|
Sufi-Co (Sufi Coffee) |
Kajian santai di kafe-kafe
hits Binjai dengan pendekatan diskusi ringan. |
Menghapus sekat kaku antara
agama dan tempat nongkrong. |
|
Digital Dhikr Clinic |
Penggunaan aplikasi meditasi
berbasis zikir dan konten dakwah visual. |
Memanfaatkan gawai untuk
kesehatan mental. |
|
Binjai Berbagi (Urban Philanthropy) |
Penyaluran sedekah kreatif
untuk pedagang kecil atau penyapu jalan. |
Mengubah spiritualitas
individu menjadi aksi sosial. |
5. Kegiatan Implementatif untuk Milenial
Agar tidak membosankan, kegiatan Urban Sufisme di Binjai harus
bersifat partisipatif:
·
Zikir
Night Walk: Melakukan jalan
santai di sekitar Lapangan Merdeka Binjai pada malam hari sembari melakukan
zikir sirr (dalam hati).
·
Workshop
"Soul Management": Pelatihan mengelola emosi dan amarah menggunakan teknik
pernapasan dan pemaknaan asmaul husna.
·
Sufi
Art Performance: Kolaborasi musik
modern dengan syair-syair Jalaluddin Rumi atau Hamzah Fansuri untuk menarik
minat seni anak muda.
6. Aplikasi Berdampak: Mengapa Penting untuk
Milenial?
Penerapan Urban Sufisme di Binjai memberikan dampak nyata pada
tiga pilar utama kehidupan remaja:
A. Kesehatan Mental (Mental Wellness)
Milenial Binjai sering terjebak dalam hustle
culture. Sufisme mengajarkan Muraqabah (kesadaran
penuh bahwa Tuhan mengawasi), yang secara psikologis mirip dengan teknik mindfulness untuk mengurangi kecemasan.
B. Etika Digital
Di era hoaks dan cyber-bullying,
konsep Adab dalam tasawuf melatih milenial Binjai untuk
melakukan Tabayyun (klarifikasi) dan menjaga lisan (serta jempol)
di media sosial.
C. Resiliensi Ekonomi
Sufisme mengajarkan tawakal yang aktif. Milenial diajak untuk
berikhtiar maksimal dalam karier namun tidak hancur secara mental jika
mengalami kegagalan, karena nilai diri mereka tidak ditentukan oleh materi
semata.
7. Kesimpulan
Urban Sufisme di Kota Binjai adalah jembatan antara tradisi
spiritual masa lalu dengan dinamika modernitas masa kini. Bagi milenial Binjai,
ini adalah jalan untuk menjadi pribadi yang Modern secara Otak, namun Klasik
secara Hati. Dengan program yang tepat, Urban Sufisme bukan lagi hal
yang "kuno", melainkan sebuah gaya hidup cerdas untuk meraih
kebahagiaan yang substansial.
"Di Binjai kita mencari nafkah, di Sufisme kita menemukan
arah."
.jpeg)
.png)