MEMUAT WAKTU...

Hadapi Tantangan Ekstremisme di Ruang Digital, Tim Mora The Air Funds Bahas Model Komunikasi Politik Berbasis AI.

Mataram.garudanews//Perkembangan Artificial Intelligence (AI) membawa peluang sekaligus tantangan baru dalam komunikasi politik dan kehidupan keagamaan di ruang digital. 

Persoalan tersebut menjadi perhatian tim peneliti Mora the Air Funds melalui Focus Group Discussion (FGD) bertema “Model Komunikasi Politik Berbasis AI dan Risiko Ekstremisme Keagamaan Perspektif Moderasi Beragama.”

FGD digelar di Camoris Coffee Resto, Kota Mataram, Jumat, 1 Mei 2026. Kegiatan ini dipimpin oleh Prof. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si. sebagai ketua tim peneliti, dengan anggota Zaenudin Amrulloh, M.A., Dr. Rubiyanah, M.A., dan Abdul Azis, M.Psi.

Forum tersebut menjadi bagian dari proses penelitian untuk memfinalisasi model komunikasi politik digital berbasis Trustworthy–Explainable AI. Model ini dikembangkan untuk membantu membaca, memetakan, dan mengukur risiko ekstremisme keagamaan di ruang digital secara lebih sistematis.

Ruang digital saat ini tidak lagi sekadar menjadi tempat pertukaran informasi. Media sosial dan platform digital telah berkembang menjadi arena pembentukan opini publik, mobilisasi massa, serta penyebaran berbagai narasi politik dan ideologis. 

Di satu sisi, kondisi tersebut memperluas partisipasi publik, tetapi di sisi lain juga menghadirkan tantangan ketika ruang digital digunakan untuk menyebarkan narasi yang berpotensi mengarah pada ekstremisme keagamaan.

Karena itu, tim peneliti memandang perlu adanya model yang mampu mengidentifikasi risiko secara lebih akurat sekaligus tetap memperhatikan prinsip etika. 

Pendekatan Trustworthy AI dan Explainable AI menjadi penting karena sistem tidak hanya dituntut menghasilkan suatu pengukuran, tetapi juga mampu memberikan penjelasan mengenai dasar dari hasil tersebut.

Dengan demikian, keputusan yang melibatkan teknologi AI dapat tetap diawasi dan dipertanggungjawabkan.
Dalam FGD, pembahasan tidak hanya ditempatkan dari perspektif teknologi.

Para peserta juga mendiskusikan dimensi komunikasi politik, sosial, keagamaan, kebijakan publik, dan moderasi beragama. 

Pendekatan lintas disiplin ini diperlukan agar model yang dikembangkan dapat memahami kompleksitas komunikasi digital dan tidak semata-mata mengandalkan indikator teknis.
Sebanyak 19 peserta terlibat dalam forum tersebut. 

Mereka berasal dari kalangan akademisi komunikasi, politik, sosiologi, dan studi keagamaan, pakar AI dan data science, pemerintah atau lembaga terkait, praktisi media digital, peneliti, serta observer.

Salah satu agenda utama FGD adalah memperoleh masukan substantif terhadap draft brief model yang telah disusun oleh tim. 

Selain itu, forum juga diarahkan untuk memfinalisasi kerangka model, menyusun indikator pengukuran risiko ekstremisme keagamaan berbasis data digital, serta merumuskan rekomendasi implementasi bagi pemangku kepentingan.

Perspektif moderasi beragama menjadi penting dalam proses tersebut. Penggunaan AI untuk mengidentifikasi risiko ekstremisme keagamaan perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak menyederhanakan kompleksitas ekspresi keagamaan di ruang publik digital. 

Karena itu, prinsip transparansi, keadilan, etika, dan akuntabilitas menjadi bagian penting dari model yang sedang dikembangkan.

Ketua tim peneliti, Prof. Dr. Gun Gun Heryanto, M.Si., bersama anggota tim menargetkan agar penelitian ini menghasilkan model yang tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga memiliki manfaat praktis bagi tata kelola komunikasi politik digital dan pencegahan risiko ekstremisme keagamaan.

Adapun keluaran FGD mencakup dokumen final brief model komunikasi politik digital, rumusan indikator risiko ekstremisme keagamaan berbasis AI, serta rekomendasi kebijakan strategis.

Melalui pengembangan model tersebut, AI diharapkan dapat ditempatkan sebagai teknologi pendukung pengambilan keputusan yang tetap berada dalam kerangka tata kelola yang bertanggung jawab. 

Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari respons akademik terhadap perubahan lanskap komunikasi politik dan keagamaan di era digital.(A.Turmuzi)
Baca Juga
Lebih baru Lebih lama