Mataram.garudanews//19 September 2026- Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 akan digelar pada 9–11 Oktober 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Gelaran ini kembali menempatkan NTB sebagai panggung olahraga internasional dan akan mendatangkan pembalap, kru, penonton, serta wisatawan dari berbagai daerah dan negara.
Pemerintah Provinsi NTB menyatakan berbagai sektor telah dipersiapkan untuk menyambut MotoGP, mulai dari transportasi, akomodasi, keamanan, pelayanan publik hingga kesehatan.
Bahkan pemerintah menegaskan bahwa kebutuhan medis dalam penyelenggaraan MotoGP menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah daerah untuk memastikan pembalap, kru, wisatawan, penonton, dan masyarakat memperoleh dukungan kesehatan serta penanganan kegawatdaruratan.
Namun, DEMA UIN Mataram punya satu pertanyaan yang tidak boleh dihindari: apakah kesiapan sebuah daerah cukup diukur dari kesiapan menggelar event, sementara persoalan kesehatan menular di daerah tersebut masih belum tertangani secara optimal?
Pertanyaan ini muncul karena persoalan Tuberkulosis (TBC) di NTB masih menjadi pekerjaan besar.
Berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) yang disampaikan Dinas Kesehatan Provinsi NTB, capaian penemuan kasus TBC pada 2025 baru mencapai 61,31 persen dari target.
Sementara pada triwulan I 2026, capaian penemuan kasus baru mencapai 13,83 persen dari target.
Dinkes NTB juga menyatakan bahwa angka keberhasilan pengobatan, investigasi kontak, serta pemberian terapi pencegahan TBC masih berada di bawah target nasional.
Ini bukan angka yang pantas disembunyikan di balik gemerlap MotoGP.
Ini adalah persoalan kesehatan masyarakat yang harus dibicarakan secara terbuka.
MotoGP bukan sekadar balapan.
Ia merupakan event internasional yang membawa mobilitas manusia dalam skala besar.
Pemerintah sendiri mengakui bahwa pengalaman wisatawan selama berada di NTB menjadi salah satu ukuran keberhasilan penyelenggaraan MotoGP.
Maka, ketika pemerintah mengajak dunia datang ke Mandalika, persoalan kesehatan masyarakat NTB juga harus menjadi bagian dari ukuran kesiapan tersebut.
Di satu sisi, NTB menyatakan diri siap menyambut dunia.
Di sisi lain, program pengendalian TBC masih mengejar target.
Bahkan pada September 2026, Dinas Kesehatan NTB masih melakukan upaya penemuan aktif dan skrining TBC di masyarakat melalui kegiatan Gebrak TB.
Artinya, pekerjaan menemukan dan memutus rantai penularan TBC masih terus berlangsung menjelang penyelenggaraan MotoGP.
Pertanyaannya kemudian: apakah persoalan ini benar-benar sudah terkendali, atau kita hanya sedang terburu-buru terlihat siap?
TBC Bukan Sekadar Angka di Atas Kertas.
Menurut WHO, TBC merupakan penyakit menular yang terutama menyerang paru-paru dan dapat menyebar melalui udara.
Risiko penularan terutama berkaitan dengan paparan terhadap penderita TBC paru yang menular, khususnya dalam kontak dekat dan lingkungan dengan ventilasi yang buruk.
Sedangkan TB RO atau Tuberkulosis Resistan Obat menghadirkan tantangan pengobatan yang lebih kompleks.
Karena itu, persoalan TBC tidak boleh diperlakukan sebagai urusan administratif semata.
Tidak cukup hanya menghitung jumlah tempat tidur rumah sakit, ambulans, pos kesehatan, atau tenaga medis yang disiapkan selama race berlangsung.
Keamanan kesehatan bukan hanya soal siapa yang siap menangani ketika wisatawan jatuh sakit.
Keamanan kesehatan juga menyangkut seberapa kuat daerah mencegah, menemukan, menangani, dan memutus penularan penyakit sebelum masalah menjadi lebih besar.
Di titik inilah DEMA UIN Mataram mempertanyakan makna “kesiapan” yang sedang digaungkan pemerintah.
Wisatawan Berhak Bertanya Sebelum Datang DEMA UIN Mataram tidak sedang mengatakan bahwa setiap wisatawan yang datang ke NTB akan tertular TBC. Klaim seperti itu tidak memiliki dasar.
Namun, wisatawan domestik maupun mancanegara berhak mendapatkan informasi yang utuh, bukan hanya tentang keindahan Mandalika, kemeriahan MotoGP, hotel, destinasi wisata, dan kuliner NTB.
Mereka juga berhak mengetahui kondisi kesehatan daerah yang mereka kunjungi.
Apakah sistem deteksi TBC berjalan optimal?
Apakah pengobatan dan investigasi kontak sudah memenuhi target?
Seberapa kuat sistem kesehatan daerah menghadapi peningkatan mobilitas manusia selama event internasional?
Dan yang paling mendasar:
Apakah NTB benar-benar siap memberikan rasa aman, bukan hanya rasa kagum?
Pertanyaan ini semakin relevan karena pemerintah sendiri menempatkan kesehatan, keamanan, transportasi, dan pelayanan sebagai bagian dari persiapan MotoGP 2026.
BPBD NTB juga telah menyiapkan skenario menghadapi berbagai risiko keselamatan, termasuk cuaca ekstrem, kegempaan, kebakaran, jalur evakuasi, titik kumpul, serta kondisi darurat lainnya.
Artinya, pemerintah sendiri mengakui bahwa keamanan wisatawan harus dipersiapkan secara serius dan lintas sektor.
Maka TBC juga tidak boleh dikeluarkan dari percakapan tentang keamanan tersebut.
Jangan Hanya Menjual Mandalika, Jelaskan Juga Risikonya
DEMA UIN Mataram berpandangan bahwa promosi pariwisata tidak boleh membuat persoalan kesehatan masyarakat menjadi tidak terlihat.
Wisatawan jangan hanya diberikan pesan: “Datanglah ke Mandalika.”
Tetapi juga harus memperoleh informasi yang membuat mereka mampu mengambil keputusan secara sadar mengenai perjalanan dan kesehatan mereka.
Sebab wisatawan memiliki hak untuk bertanya.
Seberapa siap fasilitas kesehatan NTB?
Seberapa baik pengendalian TBC berjalan?
Bagaimana sistem perlindungan kesehatan bagi masyarakat dan wisatawan ketika mobilitas meningkat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk ketakutan terhadap NTB.
Justru sebaliknya.
Transparansi mengenai risiko kesehatan adalah bagian dari keamanan wisatawan.
Jangan sampai pemerintah terlalu sibuk membangun citra NTB sebagai daerah yang siap menjadi tuan rumah event dunia, tetapi lupa bahwa reputasi pariwisata juga dibangun dari rasa aman para tamu.
MotoGP dapat selesai dalam tiga hari.
Tetapi persoalan TBC tidak selesai ketika bendera finis dikibarkan.
MotoGP Adalah Panggung Dunia, NTB Sedang Dipertaruhkan
DEMA UIN Mataram tidak mempersoalkan hadirnya MotoGP di Mandalika.
Yang kami persoalkan adalah standar kesiapan yang digunakan untuk menyatakan NTB telah siap menyambut dunia.
Kalau ukuran kesiapan hanya sirkuit, maka sirkuit memang harus siap.
Kalau ukurannya keamanan event, aparat memang harus siap.
Kalau ukurannya kesehatan darurat, tenaga medis memang harus siap.
Tetapi kalau ukurannya adalah keamanan dan kesehatan masyarakat secara menyeluruh, maka persoalan TBC tidak boleh dianggap selesai hanya karena MotoGP tetap berjalan.
Data Dinkes NTB sendiri menunjukkan bahwa sejumlah indikator utama program TBC belum mencapai target nasional.
Karena itu, DEMA UIN Mataram ingin menyampaikan pesan yang sederhana kepada pemerintah dan kepada siapa pun yang hendak datang ke NTB:
Jangan hanya bertanya apakah MotoGP siap digelar. Tanyakan juga apakah sistem kesehatan NTB benar-benar siap ketika dunia datang.
Dan kepada wisatawan domestik maupun mancanegara: Datanglah dengan informasi yang lengkap.
Nikmati NTB, kenali Mandalika, tetapi jangan pernah mengabaikan aspek kesehatan dan keselamatan dalam perjalanan Anda.
Sebab menjadi tuan rumah event dunia bukan hanya tentang seberapa banyak orang yang berhasil kita datangkan.
Lebih dari itu, pertanyaannya adalah: seberapa aman mereka berada di sini, dan seberapa siap kita melindungi mereka ketika mereka datang.(A.Turmuzi).
Tags
Berita Peristiwa
