Mataram.garudanews//20 September 2025, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram menyelenggarakan Workshop Integrasi Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada Sabtu (20/9).
Kegiatan ini menjadi terobosan penting dalam upaya menghadirkan pendidikan madrasah yang maju, adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kasih sayang.
Dua narasumber inspiratif hadir dalam acara ini, yaitu Hj. Leni Syifaunnufus dan Dr. Hj. Leni Marlina, M.Pd.I, yang memaparkan gagasan tentang sinergi antara kecerdasan buatan dan kurikulum berbasis nilai hati.
Dalam pemaparannya, Hj. Leni Syifaunnufus mengawali materi dengan penghormatan kepada jajaran pimpinan UIN Mataram dan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta workshop.
Ia menekankan pentingnya mewujudkan visi FTK UIN Mataram sebagai garda terdepan dalam memberi teladan dan kepedulian kepada madrasah, terutama di era disrupsi teknologi.
Menurutnya, istilah deep learning mungkin masih terasa asing bagi sebagian guru madrasah, namun sebenarnya konsep ini bukan hanya teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), melainkan pendekatan pembelajaran mendalam yang dapat digunakan untuk memperkuat karakter generasi bangsa.
Lebih jauh, Hj. Leni menjelaskan bahwa kurikulum berbasis cinta mengedepankan metode pendidikan dengan pendekatan kasih sayang dan kedekatan hati.
“Kita ingin peserta didik bukan hanya pintar secara intelektual, tetapi juga memiliki hati yang lembut dan akhlak yang baik,” tegasnya.
Ia mengajak para guru agar tidak takut terhadap perkembangan teknologi, melainkan membimbing siswa untuk memanfaatkan teknologi secara positif.
“Guru adalah pengembang dan pendorong utama dalam penerapan deep learning untuk memperbaiki akhlak generasi bangsa,” tambahnya, sambil membuka ruang aspirasi dari peserta untuk berdiskusi.
Sementara itu, Dr. Hj. Leni Marlina, M.Pd.I, yang memiliki latar belakang pendidikan lengkap mulai S1, S2, hingga S3 di bidang Pendidikan Agama Islam, memaparkan pentingnya integrasi antara deep learning dan Kurikulum Berbasis Cinta.
Ia menguraikan keterkaitan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam pendidikan agar lahir generasi dengan qalbun salim (hati yang bersih) dan pemikiran yang cemerlang.
Dr. Leni juga menyoroti fenomena sosial seperti perundungan (bullying) di sekolah, yang menurutnya hanya dapat dicegah melalui pendidikan yang menumbuhkan kasih sayang dan kepedulian antarindividu.
Dalam paparannya, Dr. Leni mengutip pandangan UNESCO tentang lima pilar pendidikan: learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together, dan learning to inform Allah.
Ia menekankan bahwa pendidikan adalah proses seumur hidup yang penuh kesadaran dan cinta. “Manusia baru belajar menjadi orang tua setelah memiliki anak pertama.
Itulah sebabnya anak pertama sering menjadi yang paling disayang, karena orang tua juga sedang belajar mendidik,” ungkapnya, menegaskan pentingnya proses pembelajaran yang penuh ketulusan.
Workshop ini menjadi langkah strategis FTK UIN Mataram dalam memperkuat komitmen mendukung kemajuan madrasah.
Konsep Islamic Belief atau Kurikulum Berbasis Cinta menegaskan bahwa setiap orang pada hakikatnya adalah guru yang dapat menularkan kebaikan di lingkungannya masing-masing.
Melalui perpaduan kecanggihan teknologi kecerdasan buatan dan pendekatan pendidikan berbasis cinta, diharapkan madrasah dapat melahirkan generasi cerdas, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan era digital tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.(A Turmuzi).

