MEMUAT WAKTU...

GENGSI GADGET TINGGI, LITERASI TEKNOLOGI MASIH SEMBUNYI

Kajian Metafisika Kesadaran Rohani di Tengah Ledakan Digital

Makalah Ilmiah Populer yang Viral, Menggelitik & Sedikit Menampar Realitas


 

Editor by :

-  Ade Ardian Lubis
   (Mahasiswa Fisika - FMIPA - USU - Medan - NIM: 250801048)

# Kiyai Kh. Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si., M.Si
   (Kepala Laboratorium Fisika Nuklir Universitas Sumatera Utara - Medan)


Sekapur Sirih Selayang Pandang

Kita hidup di zaman yang ganjil. Di tangan masyarakat ada ponsel pintar, tetapi di kepala masih banyak ruang gelap yang enggan dinyalakan. Hampir setiap orang menggenggam teknologi berdaya komputasi lebih kuat daripada komputer yang dahulu dipakai misi ke bulan, namun sebagian masih memakai perangkat canggih itu hanya untuk menyebar gosip, debat kosong, dan teori konspirasi. Peradaban memang lucu. Mesin bergerak maju, tetapi kesadaran sering tertinggal di halte lama.

Berdasarkan laporan We Are Social, jumlah pengguna internet Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun pertumbuhan akses tidak otomatis melahirkan pertumbuhan nalar. Inilah paradoks digital kita: jari makin cepat, tetapi daya pikir belum tentu ikut berlari.


Teknologi Bukan Sekadar Alat, Tapi Cermin Tingkat Kesadaran

Secara metafisika, teknologi bukan hanya benda mati. Ia adalah ekstensi dari pikiran manusia. Setiap chip, satelit, roket, dan kecerdasan buatan lahir dari keberanian manusia menembus batas ketidaktahuan. Teknologi adalah manifestasi kesadaran kolektif sebuah bangsa.

Jika suatu masyarakat hanya menikmati hasil teknologi tanpa ingin memahami prinsipnya, maka secara rohani masyarakat itu sedang hidup di permukaan realitas. Mereka menikmati cahaya lampu, tetapi menolak memahami listrik. Mereka memegang smartphone, tetapi alergi terhadap sains. Tragis, namun cukup umum.

Studi PISA dari OECD berkali-kali menunjukkan kemampuan literasi dan sains pelajar Indonesia masih tertinggal secara global. Ini bukan sekadar angka pendidikan. Ini alarm peradaban. Karena rendahnya literasi menandakan rendahnya kapasitas masyarakat untuk membaca hukum-hukum semesta dengan akal sehat.


Rohani yang Tertidur di Era Sinyal Penuh

Kesadaran rohani sejati bukan sekadar ritual simbolik, melainkan kemampuan melihat kebenaran dengan jernih. Orang yang sadar secara rohani akan mencintai kejujuran, ketelitian, sebab-akibat, dan pencarian ilmu. Sebaliknya, pikiran yang malas sering bersembunyi di balik narasi mistik palsu dan konspirasi murahan.

Ketika roket diluncurkan, sebagian bangsa lain bertanya: “Bagaimana sistem propulsinya bekerja?”
Sebagian dari kita justru bertanya: “Ini editan, kan?”

Itulah beda antara kesadaran pencipta dan kesadaran penonton. Yang satu membangun masa depan, yang satu sibuk mencurigai masa depan.


Bahaya Spiritual dari Literasi yang Rendah

Rendahnya literasi bukan hanya masalah akademik. Ia adalah krisis batin modern. Mengapa?

Karena orang yang tidak terlatih berpikir kritis akan mudah dikuasai ketakutan, manipulasi, dan ilusi. Ia mudah tertipu investasi bodong, termakan hoax, fanatik buta, dan menyembah sensasi. Dalam bahasa metafisika: pikirannya dijajah kabut.

Data Kemenkominfo menunjukkan tantangan besar masih berada pada keamanan digital dan kemampuan berpikir kritis. Artinya, masyarakat sudah masuk dunia digital, tetapi belum membawa kompas kesadaran ke dalamnya. Akibatnya, banyak yang berenang di lautan informasi sambil menelan air racun.


Gadget Tinggi, Gengsi Tinggi, Getaran Jiwa Rendah

Ada fenomena sosial yang menarik: banyak orang rela membeli ponsel mahal demi status, tetapi enggan membeli buku demi kualitas diri. Rela update kamera, malas update wawasan. Rela ganti casing, malas ganti pola pikir. Manusia memang kreatif dalam memilih kemunduran bergaya.

Padahal nilai seseorang tidak naik karena merek gadget, melainkan karena mutu cara berpikirnya. Ponsel flagship di tangan pikiran malas hanyalah kalkulator mahal untuk kebodohan yang dipercepat.


Membangun Kebangkitan Kesadaran Kolektif

Bangsa maju lahir saat masyarakatnya menghormati ilmu sebagai jalan pencerahan. Karena itu, Indonesia membutuhkan revolusi kesadaran, bukan sekadar revolusi aplikasi.

Langkah penting yang harus dibangun:

  1. Menjadikan literasi teknologi sebagai gerakan nasional
    Bukan acara seremonial yang penuh spanduk dan minim isi. Tradisi klasik manusia.

  2. Membanjiri ruang digital dengan konten sains yang menarik
    Jika hoax bisa viral, ilmu juga bisa viral bila dikemas cerdas.

  3. Mengangkat ilmuwan, peneliti, dan inovator sebagai tokoh publik
    Jangan hanya selebritas sensasi yang terus diberi panggung.

  4. Melatih self-awareness individu
    Sebelum membagikan informasi, tanya dulu: benar atau hanya bikin gaduh?

  5. Menanamkan bahwa belajar adalah ibadah intelektual
    Karena mencari ilmu adalah bentuk penghormatan terhadap ciptaan semesta.


Kesimpulan: Saatnya Naik Kelas Secara Rohani & Teknologi

Jika Indonesia ingin menjadi negara maju, kita tidak cukup hanya menjadi pengguna aplikasi dan konsumen pasar global. Kita harus bangkit sebagai bangsa pencipta, peneliti, dan pemilik visi masa depan.

Roket tidak lahir dari komentar sinis. Satelit tidak dibuat oleh penyebar hoax. Peradaban tidak dibangun oleh orang yang bangga bodoh.

Mari berhenti memuja gengsi digital. Mari bangunkan kesadaran rohani yang cinta ilmu, logika, dan inovasi. Karena ketika akal sehat bersatu dengan jiwa yang tercerahkan, bukan mustahil suatu hari roket karya anak bangsa meluncur ke langit, sementara dunia menonton dengan kagum.(ms2)


Referensi:

  • Kemenkominfo. (2023). Status Literasi Digital di Indonesia: Laporan Survei Nasional. Jakarta.

  • OECD. (2023). PISA 2022 Results: Factsheets Indonesia. Paris.

  • We Are Social & Meltwater. (2024). Digital 2024: Indonesia.

Baca Juga
Lebih baru Lebih lama