Garudanewa//
By, Henriono (Ketum JAMAN)
Kita mengapresiasi kesuksesan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) 4 juta ton pada bulan Mei 2025 yang menyisahkan tanda tanya besar terkait kebenaran kuantitas CBP pada saat itu.
Hal ini timbul, mengingat indonesia impor beras 4,52 Juta ton pada tahun 2024. tiba tiba Indonesia surplus CBP 4 juta ton dalam waktu singkat hanya 5 bulan telah mengalami peningkatan dari Minus (Impor) menjadi Plus (Surplus) dengan persentase perubahan diatas 900 %, padahal waktu itu tidak terjadi revolusi produksi padi.
Kaitannya dengan itu, Presiden Prabowo memerintahkan agar Bulog membeli hasil panen padi para Petani, Ia pun menggelontorkan anggaran sebanyak 16,6 Triliun dengan pencairan 16,58 melalui Kementerian keuangan Republik Indonesia.
Dengan adanya anggaran itu, Bulog dapat membeli gabah hasil panen petani dengan harga 6.500 per kilogram.
Kenapa Prabowo memerintahkan membeli gabah langsung dari Petani dibandingkan Beras ?.
Alasan Prabowo mengutamakan membeli Gabah dari pada beras adalah; Pertama, Apabila Bulog membeli gabah akan berdampak pada kesejahteraan Petani dimana selama ini harga gabah banyak dipermainkan oleh Rentenir sehingga petani hanya mendapatkan keuntungan sedikit dan terkadang rugi pada situasi dan kondisi tertentu.
Dengan kebijakan ini, Petani bisa mendapatkan nilai tambah dari pendapatan sebelumnya sehingga bisa hidup lebih layak dan sejahtera.
Kedua, dengan membeli gabah, Bulog dapat menyimpannya dalam jangka waktu lama dibandingkan dalam bentuk beras.
Kebijakan Pemerintah menyimpan banyak beras di gudang Bulog lebih dari 4 bulan lamanya memiliki tingkat resiko tinggi, karena beras dapat mengalami kerusakan dengan terjadinya perubahan warna dari putih menjadi agak kuning atau agak hitam.
Tidak hanya itu, beras yang disimpan terlalu lama akan berkutu. Dampaknya, perubahan warna beras terkadang harus melakukan pencucian agar kelihatan mengkilau kembali atau penyaringan ulang untuk menghilangkan beras yang sudah berkutu.
Itulah alasan Prabowo memerintahkan agar mengutamakan membeli gabah dari pada beras terutama pada masa El Nino dan La Nina.
Pada awal tahun 2026, Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Andi Amran Sulaiman (AAS) telah menyampaikan bahwa cadangan beras pemerintah pada penghujung 2025 mencapai 3,25 juta ton dan terus bertambah mencapai 4,8 juta yang membuat Gudang Bulog dengan kapasitas 3 juta ton harus sewa Gudang agar dengan kapasitas 2 juta ton sehingga total kapasitas gudang beras mencapai 5 juta ton. pada 23 April 2026, Mentan RI, Dr. Andi Amran Sulaiman dan Wamentan RI, Dr. Sudaryono telah mengatakan bahwa CBP mencapai 5,1 juta ton. berarti dari bulan Januari – April 2026, Bulog mendapatkan tambahan CBP kurang lebih 1,85 juta ton.
Permasalahannya, Presiden Prabowo telah memerintahkan agar Bulog membeli gabah hasil panen Petani. Jadi untuk memenuhi 1,85 juta ton beras dibutuhkan kurang lebih 3,54 juta ton gabah kering panen (GKP) petani dengan menyediakan anggaran belanja Pemerintah minimal 23 Triliun.
Mari kita hitung CBP 3,25 juta ton, apabila ditambahkan dengan 3,54 juta ton GKP akan menghasilkan jumlah total beras dan gabah sebanyak 6,79 juta ton dimana daya tampung gudang yang telah disediakan hanya berkapasitas 5 juta ton.
Artinya, terdapat kurang lebih 1,79 juta ton gabah panen yang tidak punya tempat penyimpanan.
Dari sini, ada keganjalan yang menimbulkan pertanyaan dalam benak kita. apakah benar yang disampaikan Menteri Pertanian dan Wakil menteri Pertanian RI terkait CBP 5,1 juta dan kemana sisa 1,79 juta ton gabah berdasarkan Perintah Presiden Prabowo terkait membeli gabah Petani ? ataukah penyampaian kuantitas 5,1 juta ton, itu pembohongan Publik ?
Selanjutnya pada tanggal 13 mei 2026, Menteri Pertanian telah menyampaikan bahwa CBP telah mencapai 5,3 ton.
Capaian yang luar biasa, Ironinya Presiden Prabowo perintahkan beli gabah tapi yang bertambah beras terus menerus. Sedangkan daya tampung gudang hanya 5 juta pada April 2026 dimana masih menyisahkan pertanyaanya, kemana sisa 1,79 juta ton gabah ?, ditambah lagi 200 ton beras.
Jika benar yang dibeli semuanya beras sepertinya perintah Presiden Prabowo agar membeli gabah Petani tidak dilaksanakan lagi.
Dampaknya, semakin banyak beras menumpuk di gudang, maka semakin cepat juga beras itu rusak. Apabila solusinya bisa dijual, pertanyaannya, apakah ada negara yang mau membeli beras Indonesia di Asean ?
Coba kita kembali mengingat penyampaian Menteri Pertanian RI bahwa gara-gara Indonesia mencapai swasembada pangan (tepatnya swasembada beras) akhirnya stop impor beras berdampak pada turunnya harga beras dunia dari $650 menjadi $371.
kesuksesan Indonesia swasembada beras yang berdampak pada turunnya harga beras dunia pun menjadi kebanggaan dimana kabinet merh putih menyambut keberhasilan itu dengan tapuk tangan.
Turunnya harga beras dunia menjadi murah pada satu sisi itu baik, tapi disisi lain menjadi masalah baru. Dengan adanya rencana Indonesia ekspor beras 1 juta ton sebagaimana disampaiakn pihak kementan dan bulog sebelumnya berdasarkan harga Internasional atau harga Indonesia ?..
Jika benar pemerintah ekspor beras 1 juta ton pada tahun ini. apakah beras ekspor nantinya berdasarkan harga Indonesia atau harga pasar Dunia ? Jika beras ekspor dijual berdasarkan harga Indonesia, hal itu tidak jadi masalah.
Akan tetapi, apakah negara di di Asean mau dan berminat membeli beras Indonesia dengan harga mahal kurang lebih 14.000 rupiah saat ini sedangkan ada negara lain yang memberikan penawaran harga yang lebih murah ?
Jika beras Indonesia dijual dengan harga pasar dunia dengan harga U$371 setara 6.492.500 rupiah per ton maka bulog akan mengalami kerugian 14.000.000 – 6.492.500 = 7.507.500 rupiah dikalikan 1 juta ton beras (ekspor) menjadi 7,5 Triliun kerugian yang harus ditanggung Bulog.
Pertanyaannya, apakah kita mau dan terima transaksi bisnis ekspor beras Indonesia bukan berdasarkan pada keuntungan tapi berlapang dada menerima dengan baik meskipun rugi ?
Tulisan ini tidak menolak swasembada beras 2026. Tapi meragukan kuantitasnya dengan menggunakan rasio kapasitas gudang.
Jika benar semua gudang diisi beras berarti Perintah Presiden Prabowo terkait Gabah sudah tidak berlaku lagi. Akan tetapi, Apabila Presiden Prabowo konsisten perintahkan membeli gabah Petani, berarti Menteri pertanian dan Wakil menteri pertanian serta Kabulog melawan Perintah Presiden Prabowo.
Apa bila yang disampaikan terkait 5,1 - 5,3 juta ton dimana didalamnya ada campuran gabah hasil panen petani berarti kapasitas gudang tidak mencukupi sehingga patut dipertanyakan kebenarannya sehingga kemungkinan terjadi pembohongan publik alias rakyat dibohongi.
Sebelumnya, Nalar kritis ini muncul mengingat potensi manipulasi data Impor 2023 dan 2024 yang belum mendapatkan titik terang apataklagi dalam tahun yang sama membuat program 3 juta hektar cetak sawah baru (bermasalah) dimana kontra produktif dengan Surplus CBP 4 juta ton pada saat itu. hal ini akan kita bahas selanjutnya termasuk triliunan bahkan dapat mencapai puluhan triliun potensi 3penyalahgunaan uang negara.
Terkait dengan penyalahgunaan uang negara, kami apresiasi Kementrian Pertanian RI dengan tegas pemecatan dan memejarakan orang orang yang bermasalah dengan nilai puluhan juta, ratusan juta atau milyaran dimana mencapai 192 orang dan targetnya 1000 orang bila mana dipercayakan menjabat sampai 5 tahun.
Berdasarkan hal itu, agar kesannya tidak hanya tegas pada permasalahan kecil dan menegah, kami berharap BPK, KPK atau KEJAGUNG menelusuri Potensi kerugian negara dalam jumlah besar dengan keterlibatan manipulator, mafia dan oknum pejabat Negara terkait dengan hal tersebut.
Karena belum bisa berbuat dengan cara lain, melalui tulisan Ini, meskipun awalnya terasa berat, tapi atas motivasi dan saran adinda Daus selaku salah satu kader terbaik Ambalan agar saya menulis dengan argumentatif dan berbasis data sebagai bentuk kepedulian pada Rakyat dan Negara Republik Indonesia.
Kami Percaya bahwa Presiden Prabowo bekerja dengan total dan Ikhlas untuk Rakyat dan Negara Republik Indonesia. maka dari itu, kami doakan,
Smoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan dan menambahkan umur serta memberikan petunjuk kepada Presiden Prabowo dalam memaksimalkan loncatan fiskal dan stabilitas rupiah atas tekanan moneter dunia demi kemakmuran Rakyat dan Kemajuan Indonesia.
Masyarakat Indonesia Berbeda tapi Satu (MARI BERSATU)
Salam Pancasila.
HENRIONO
(Ketum Jaringan Anak Muda Nusantara - JAMAN / Sekjend BTS PS 08 - Bang Tole Suares).
Tags
Artikel
