MEMUAT WAKTU...

UIN Mataram dan Kemenag RI Gelar 'NGOPI' Di Ponpes Nurul Huda Sembalun.

Mataram.garudanews//Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram kembali menunjukkan komitmen nyatanya dalam memajukan kualitas pendidikan Islam hingga ke pelosok daerah. 

Bekerja sama dengan Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia serta Komisi VIII DPR RI, UIN Mataram sukses menggelar program Ngobrol Pendidikan Islam (NGOPI) pada Sabtu (17/10/2026).

Kegiatan bernuansa akademis sekaligus silaturahmi ini dipusatkan di Pondok Pesantren Nurul Huda Sembalun, Lombok Timur, dengan mengusung tema strategis: "Penguatan Literasi Digital dan AI (Artificial Intelligence) bagi Guru Madrasah untuk Pembelajaran Berkualitas". 

Tak kurang dari 300 guru madrasah dan tenaga kependidikan memadati lokasi acara dengan antusiasme tinggi.
Apresiasi Tuan Rumah dan Sejarah Ponpes Nurul Huda.

Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda NW Sembalun, H. Surdian Fahimuddin, S.H. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi mendalam dan ucapan terima kasih atas kepercayaannya menjadikan Ponpes Nurul Huda NW sembalun sebagai tuan rumah agenda nasional ini.

"Pondok pesantren ini berdiri sejak tahun 1996, di mana penamaannya diberikan langsung oleh Pimpinan Nahdlatul Wathan (NW). 

Hingga kini, kami terus berkomitmen menjaga mutu pendidikan dengan menghadirkan tenaga pendidik yang banyak di antaranya merupakan alumni Timur Tengah. 

Kami sangat bersyukur agenda penguatan literasi digital ini dapat terselenggara di sini," ujar H. Surdian.

Pentingnya Etika dan Adab di Era Kecerdasan Buatan

Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Mataram, Prof. Dr. H. Maimun, M.Pd., hadir membuka acara secara resmi sekaligus memberikan pencerahan mengenai tantangan era Artificial Intelligence (AI) bagi dunia kependidikan.

Prof. Maimun menekankan bahwa kecanggihan teknologi harus dibarengi dengan etika dan kesantunan agar peran pendidik tidak tergerus oleh mesin.

"Kita memasuki era AI, namun ingat, etika dan kesantunan dalam menggunakannya harus tetap menjadi panduan utama. 

Jangan sampai kecerdasan buatan justru mendahului dan mengikis nilai-nilai kemanusiaan serta keislaman kita," tegas Prof. Maimun.

Sejalan dengan hal tersebut, pemateri Apt. Syifaun Nufus, M.Farm., memaparkan bahwa pendidik modern tidak boleh menutup mata terhadap kemajuan zaman. 

AI hadir sebagai alat bantu (tools) yang sangat efektif untuk mempermudah tugas administrasi guru, mulai dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), modul ajar, hingga evaluasi pembelajaran.

Namun, beliau menggarisbawahi bahwa AI tidak akan pernah bisa menggantikan peran utama guru sebagai pembentuk

 "AI hanya memiliki kecerdasan intelektual, sementara kecerdasan emosional, keteladanan, dan pembentukan karakter tetap menjadi domain utama seorang guru. 

Literasi digital harus sejalan dengan sikap kritis, etika, dan nilai-nilai Islam. 

Jangan sampai kita canggih secara teknologi, tapi kehilangan adab," ungkap Syifaun Nufus.

Ia juga menyuarakan pentingnya pemerataan akses dan kemampuan teknologi agar efisiensi pendidikan di wilayah pedesaan/pesantren tidak tertinggal jauh dari kawasan perkotaan.

4 Pilar Literasi Digital dan Peran Nyata AI untuk Guru Madrasah

Dalam sesi penyampaian materi teknis, Oleh Narasumber kedua Dr. Leny Herlina, M.Ag memaparkan bahwa penerapan teknologi modern menuntut guru untuk langsung mempraktikkan keterampilan dasar digital—seperti mengunggah, mengunduh, hingga memanfaatkan smartphone secara optimal—tanpa selalu bergantung pada operator sekolah.

Penguatan kapasitas guru dalam agenda NGOPI kali ini berlandaskan pada 4 Pilar Literasi Digital:

Cakap Digital: Mampu mengoperasikan platform digital pembelajaran seperti Google Classroom, LMS, Canva, CapCut, hingga mengelola saluran YouTube pembelajaran.

Bijaksana Digital: Memanfaatkan teknologi secara tepat guna sesuai situasi dan kebutuhan aktual peserta didik di lapangan.

Aman Digital: Menjaga kerahasiaan data pribadi, akun, serta sandi agar terhindar dari kejahatan siber.

Budaya Digital: Mengintegrasikan kearifan lokal, budaya, dan akhlakul karimah dalam setiap pemanfaatan media digital.

Mengenai pemanfaatan AI, narasumber mengingatkan bahwa hasil dari AI berfungsi sebagai kerangka kerja (guideline), bukan materi final. 

Guru dan siswa diwajibkan untuk tetap melakukan cross-check serta verifikasi data agar informasi yang disajikan selalu valid.

Diskusi Interaktif: Keseimbangan Antara AI dan Pembelajaran Alam
Sesi diskusi berlangsung hidup ketika para peserta diberi kesempatan menyampaikan pandangan. 

Salah satu peserta, Ustaz Musalan, menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara kecanggihan AI dan metode pembelajaran langsung berbasis alam serta realitas sosial—khususnya di kawasan pegunungan seperti Sembalun.

Diskusi tersebut menyimpulkan bahwa AI harus diposisikan sebagai akselerator inovasi, sedangkan pengalaman empiris di alam terbuka dan keteladanan langsung pendidik tetap menjadi fondasi utama dalam mentransfer ilmu dan akhlak.

Melalui kegiatan NGOPI ini, UIN Mataram bersama Kemenag RI dan DPR RI berharap guru-guru madrasah di NTB, khususnya Lombok Timur, semakin siap menyongsong era transformasi digital tanpa kehilangan identitas serta nilai-nilai luhur keislaman.(A.Turmuzi).
Baca Juga
Lebih baru Lebih lama